The Importance of Trading Off in Our Life and Why Harmony is just an Utopia

Notes for me and my future self #2

Disclaimer: ini adalah tulisan yang bersumber dari ekspresi pribadi saya dan konsumen utamanya adalah diri saya sendiri. Saya tidak bertanggung jawab atas keakuratan dan kebenaran informasi , serta kesesuaian intepretasi pembaca terhadap tulisan ini. Tidak ada maksud untuk menyinggung ataupun mendiskreditkan suatu pihak, jika ada pihak yang merasa tersinggung atau merasa tidak berkenan dengan tulisan ini, maka saya tidak bertanggung jawab terhadap hal tersebut dan saya tidak akan menanggapi segala keluhan yang dilayangkan.

Dalam persaingan yang semakin mengglobal dimana tak ada lagi ada batasan aksesibilitas informasi, maka seluruh jenis persainganpun menjadi semakin sengit, baik itu korporasi, pribadi, institusi, hingga politisi semua bisa berebut kue yang berada dimana saja.

Masing-masing entitas secara internal memiliki kapasitas dan kapabilitas yang berbeda dan secara external memiliki tanggung jawab, ikatan peraturan, dan kondisi lingkungan yang juga berbeda-beda. Hal ini membuat persaingan maupun komparasi apple to apple nyaris tidak bisa dilakukan. Patut disadari bahwa tidak ada “silver bullet”. “philosopher stone”, “mantra sakti”, “rumus jitu” yang bersifat generic bagi setiap entitas untuk mencapai tujuan. Masing-masing akan memiliki “Track race”nya sendiri dan diperlukan teknik serta kendaraan dengan konfigurasi yang berbeda pula untuk menaklukan track race tersebut.

Konteks Pribadi

-Inequality in Life-

Tak bisa dipungkiri bahwa manusia sudah “not equal” sejak dia berada di dalam kandungan. We are in different race track even when we haven’t start the race yet. Dapat kita bayangkan  perbedaan bayi yang lahir dari kandungan keluarga sejahtera yang melengkapi seluruh nutrisi dan melakukan pemeriksaan rutin, dibandingkan dengan bayi yang berada dalam kandungan ibu yang seorang pecandu narkoba dan hidup dibawah taraf kemiskinan. Lebih dalam lagi ada genetika dan “dadu Tuhan” yang bermain, dimana hingga saat ini belum dapat ditentukan secara 100% seperti apa bayi yang akan lahir, manusia hanya dapat berusaha namun masih ada random rate yang tak bisa diprediksi. Dapat saja lahir bayi yang sehat dan sempurna, namun juga terkadang dapat lahir bayi yang memiliki kekurangan baik secara fisik maupun mental.

Sejak lahir kita sudah disibukkan dengan berbagai macam tanggung jawab dan masalah masing-masing, ada anak pengusaha sibuk yang mendapat seluruh fasilitas pendukung namun terbebani tanggung jawab untuk memenuhi ekspektasi orang tua yang ingin dia menjadi yang terbaik di segala bidang. Lalu tak berjarak 10 meter dari lokasi anak tersebut, terdapat anak lainnya yang sibuk membantu orang tuanya berjualan untuk sekedar mampu membeli beras dan menyambung hidup, namun dia dapat menghabiskan waktu setiap hari bersama kedua orang tuanya. And yet these two boys have to sit together in a class everyday and compete to become the number 1 in class. 

Seiring beranjak dewasa, setiap orang akan mulai dihadapkan pada permasalahannya masing-masing. Namun sayangnya stereotype yang berkembang di masyarakat cenderung mulai salah arah dimana kesuksesan hidup dinilai dari material, dan terkadang lebih parah ekpektasi untuk dapat sempurna di semua sisi kehidupan. Thanks to Social Media who endorse  perfect [fake] life. Kita akhirnya sibuk untuk menjawab seluruh ekspektasi dari masyarakat dan menjadi kehilangan arah mengenai dampak positif apa yang kita bisa berikan bagi kehidupan kita.  Beberapa orang akan merelakan passionnya untuk menjalani stereotype life dan orang lainnya sibuk pencitraan demi menjawab ekspektasinya.

-The Harsh Path of Trading off-

Berhenti berekspektasi pada orang lain sepertinya merupakan  langkah awal “trade off” terbaik yang harus dilakukan, dimana kita biarkan orang lain berkembang sesuai dengan arah yang diinginkannya walau mungkin mereka masih berekspektasi pada diri kita. Ignorant is definitely a bliss.  Tidak berekspektasi akan membuat beban pikiran menjadi lebih ringan. kondisi pikiran yang lebih ringan ini selanjutnya dapat kita gunakan untuk memikirkan hal lainnya.

Menyadari bahwa diri kita tidak sempurna dan memiliki keterbatasan adalah hal tricky. Ada batasan tipis antara embracing lack of talent & chance dengan kemalasan. Yang bisa menjawab adalah diri kita sendiri. Mengapa hal ini menjadi penting karena kita memiliki berbagai macam limitasi, berusaha maju di tempat yang salah akan membuat kita stagnan, we do nothing wrong, we just push thru unbreakable wall so we can’t move forward. Proses pengenalan diri dan minat diri tidak semudah yang dikatakan oleh para motivator dan buku motivasi, karena kita sendiri terkadang masih berbohong kepada diri sendiri mengenai apa yang kita mau, kemudian diperparah oleh faktor-faktor eksternal lainnya yang turut berperan.

Saat kita sudah bisa mengetahui apa yang kita inginkan, itulah saat dimana kita harus bisa memilah hal-hal mana yang perlu kita kesampingkan atau korbankan. Proses ini mulai berat karena mulai harus melibatkan aksi nyata, beradaptasi dengan konsekuensi dari keputusan yang telah dibuat. Kita harus mengurangi frekuensi makan makanan kesukaan kita demi menurunkan berat badan, kita harus berani menolak untuk lembur karena harus les bahasa asing, kita harus rela berjauhan dari keluarga demi mengejar percepatan karir. dll. Hal-hal tersebut pasti menimbulkan rasa tidak nyaman di bagian tertentu, namun karena kita punya limitasi baik secara internal maupun external perlu extra effort untuk mengejar yang kita inginkan.

Tahapan yang terberat adalah ketika kita berada di persimpangan jalan, pada saat proses  adaptasi antara kondisi lama dan kondisi baru tidak lagi dapat berjalan beriringan, ketika saat kita harus memilih antara huruf A atau B, angka 1 atau 2. Saat inilah dimana kita harus berani melangkah, karena jika tidak melangkah, kita akan berada pada pusaran medioker yang tak berkesudahan. Every decision have it’s own rewards and consequences . Namun berkaca dari para tokoh besar dan sukses, mereka semua adalah orang yang berani menentukan pilihan.

Bill Gates dapat saja tidak drop out dari kuliah dan kemudian menjadi software engineer yang bergaji tinggi. Namun dia memilih untuk drop out karena mengetahui potensi dirinya dan berani bertaruh pada produk yang dibuatnya. Soekarno dengan kharisma dan kecerdasannya dapat saja menjalani kehidupan yang tenang pada era penjajahan, namun dia memilih berjuang dan berkiprah pada proses kemerdekaan Republik ini walau akhirnya beliau harus mengakhiri penghujung hidupnya dengan kondisi yang kurang baik. Habibie dapat saja hidup tenang sebagai aerospace engineer terkemuka di Jerman, namun beliau memilih untuk tetap berkiprah di Indonesia walau berbagai macam intrik menimpa dirinya.

Dan Pada sisi lain dunia ini,

Terdapat pasangan dokter yang begitu cerdas dan terampil, mereka selalu berusaha memberikan layanan terbaik hingga akhirnya memiliki rumah sakit sendiri dan memiliki antrean pasien dari kalangan kelas atas, namun ternyata anaknya terjerumus ke pergaulan bebas hingga menggunakan narkoba karena merasa tidak pernah diperhatikan oleh orangtuanya. Terdapat atlet yang rela berjuang saat olimpiade walaupun sedang cidera demi menyumbangkan medali emas, namun setelah itu dia harus menanggung cidera seumur hidup yang membuatnya tidak bisa bekerja secara normal.

Dapat kita lihat bahwa harmoni kehidupan itu adalah utopia. Kita tak bisa mendapatkan segalanya, karena untuk mendapatkan sesuatu, harus ada hal lain yang dikorbankan dan sayangnya tidak ada takaran tepat dari dampak pengorbanan ini.  Akan selalu ada cerita dibalik cerita. Mengutip dari komik Fullmetal Alchemist  dikatakan bahwa hukum utama dari alkimia yaitu: “untuk menciptakan sesuatu, maka sesuatu yang lain harus hilang atau dibayarkan”.

Konteks Organisasi

Organisasi juga tidak terlalu berbeda dengan pribadi, jika organisasi dicontohkan sebagai sebuah perusahaan, maka seluruh perusahaan tidak pernah berada pada kondisi ideal, selalu ada hal yang menjadi keutungan dan hal yang menjadi beban. Yang sedikit membedakan antara organisasi dan pribadi adalah organisasi dapat berubah sesuai dengan kondisi pimpinannya. Perubahan pimpinan dapat merubah arah organisasi sepenuhnya, menjadi lebih baik ataupun lebih buruk.

Namun kondisi terburuk dalam organisasi adalah ketika pemegang kuasa menduga bahwa kondisi bisnis selalu dalam kondisi baik-baik saja dan mereka dapat mencapai segalanya. Keinginan untuk mencapai segalanya ini membuat organisasi menjadi tidak fokus dan membuat tidak ada hasil yang terlihat secara jelas. Pada literatur Competitive Advantage & 5 Forces milik Michael Porter menyatakan bahwa salah satu yang menjaga eksistensi perusahaan adalah keberanian untuk diferensiasi. Menampilkan diferensiasi ini besar kemungkinan memerlukan trade off resource dari segmen lain karena untuk menghasilkan diferensiasi pasti membutuhkan effort yang lebih dibandingkan dengan aktivitas business as usual.

Aksi diferensiasi ini baiknya mampu tercermin mulai dari visi pemegang kuasa dan bisa diturunkan hingga mampu dimengerti oleh pegawai pada level terbawah. Karena organisasi adalah ibarat kelabang yang berkaki ratusan, jika sejumlah kakinya tidak bergerak sejalan, maka kelabang tersebut tidak akan mampu melangkah. Kejelasan visi sangat penting untuk menunjukkan diferensiasi yang akan dilakukan dan kemudahan untuk menerjemahkannya menjadi aksi-aksi nyata.

Sebagai pemegang kuasa dibutuhkan kemampuan untuk mampu persistence terhadap diferensiasi yang ingin dilakukan karena sama seperti kehidupan pribadi, ketika kita ingin bergerak menuju perubahan, pasti akan muncul ketidaksenangan  yang muncul baik dari sisi internal maupun external. Namun jika sikap persistence ini jika dilaksanakan secara sungguh-sungguh dan didasari oleh semangat yang positif maka lambat laun akan mampu dirasakan oleh pekerja hingga level terbawah.

Apple Iphone pada era Steve Jobs berani persistence untuk selalu menghadirkan kualitas estetis dan prestige pada setiap serinya, hingga walaupun dijual dengan harga diatas handphone lainnya, tetap laku dan diburu orang-orang. Namun dibalik cerita manis itu ada juga cerita buruk. Nokia persistence untuk berpegang pada business modelnya dan tidak megadopsi OS Android, lalu akhirnya Nokia yang merupakan market leader akhirnya harus menutup lini usaha handphonenya.

Apakah Nokia melakukan hal yang salah? menurut saya tidak, selalu ada risiko pada setiap pilihan, namun tidak persistence akan berdampak lebih buruk, karena itu berarti kita tidak akan pernah menjadi market leader.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>